Universitas Gadjah Mada PUSAT PERILAKU DAN PROMOSI KESEHATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN, KESEHATAN MASYARAKAT, DAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Profil
    • Visi Misi
    • Struktur Organisasi
    • Kompetensi
    • Spesifikasi
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pelatihan
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pengembangan Keilmuan
  • Publikasi
  • Media
  • Dokumen
    • Pedoman/Panduan
    • Policy Brief
  • Artikel SDGs
  • Beranda
  • Agenda
  • CHBP FK-KMK UGM Dorong Penguatan Puskesmas Inklusif di Cilacap

CHBP FK-KMK UGM Dorong Penguatan Puskesmas Inklusif di Cilacap

  • Agenda, Aktivitas, Berita Terbaru
  • 18 Februari 2026, 08.07
  • Oleh: Nia Lestari Muqarohmah
  • 0

Cilacap, 31 Januari 2026 – Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FK-KMK UGM melakukan kunjungan koordinasi ke Puskesmas Cilacap Selatan II dan Puskesmas Kesugihan II, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan langkah awal pengembangan riset puskesmas inklusif melalui pendekatan peer-based learning yang bertujuan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan layanan yang ramah, setara, dan bebas diskriminasi, khususnya dalam penanganan HIV.

Kunjungan dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, M.A., bersama Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A., didampingi oleh tim peneliti yaitu Almaasita Yumna Hajar, MPH, Purnama Dewi Siregar, MPH dan Tutik Istiyani, S.Sos. Turut hadir perwakilan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Cilacap serta tenaga kesehatan dari kedua puskesmas. Diskusi yang berlangsung menggambarkan dinamika layanan HIV di wilayah pesisir yang memiliki karakteristik mobilitas penduduk tinggi. Program Active Mobile VCT menunjukkan adanya peningkatan kasus HIV yang tersebar di berbagai wilayah Cilacap. Kondisi ini tidak terlepas dari posisi geografis Cilacap sebagai wilayah dengan pelabuhan besar yang menjadi titik mobilitas nelayan, tenaga kerja asing, dan pendatang, sehingga membentuk pola penularan yang kompleks dan dinamis.

Di Puskesmas Cilacap Selatan II, tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya angka lost to follow up pada pasien HIV dari kalangan nelayan. Aktivitas melaut dalam jangka waktu panjang menyebabkan pasien tidak kembali untuk melanjutkan terapi antiretroviral secara rutin. Selain persoalan keberlanjutan pengobatan, faktor sosial juga turut memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat pesisir. Ditemukan bahwa sebagian anak nelayan mengalami keterlantaran dan tidak mengikuti pendidikan formal. Sebagai respon, pihak puskesmas berupaya melakukan edukasi kesehatan dengan menyisipkan materi HIV/AIDS kepada anak-anak pesisir sebagai langkah promotif dan preventif sejak dini. Namun demikian, stigma dan diskriminasi yang masih kuat di lingkungan masyarakat membuat sebagian orang dengan HIV memilih mengakses layanan kesehatan di luar wilayah tempat tinggalnya demi menjaga kerahasiaan status kesehatan.

Situasi yang hampir serupa juga dihadapi oleh Puskesmas Kesugihan II. Stigma sosial menyebabkan sebagian masyarakat enggan memanfaatkan layanan kesehatan secara terbuka, sehingga meningkatkan risiko putus pengobatan. Dalam diskusi kedua puskesmas, muncul persoalan krusial terkait notifikasi pasangan calon pengantin ketika salah satu pihak terdiagnosis HIV positif. Tenaga kesehatan kerap menghadapi dilema etis dan komunikasi dalam menyampaikan informasi tersebut secara aman, inklusif, serta tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan. 

Menanggapi kondisi tersebut, tim dari CHBP FK-KMK UGM menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan komunikasi inklusif yang berbasis hak asasi manusia dan pendekatan non-diskriminatif. Pendekatan peer-based learning antar puskesmas diusulkan sebagai strategi untuk saling berbagi praktik baik, memperkuat sensitivitas sosial tenaga kesehatan, serta membangun sistem layanan yang lebih adaptif terhadap konteks masyarakat pesisir. Melalui mekanisme pembelajaran sejawat, diharapkan terbentuk ruang refleksi dan perbaikan berkelanjutan dalam praktik pelayanan HIV di tingkat layanan primer.

Secara lebih luas, inisiatif pengembangan riset puskesmas inklusif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera dalam upaya memastikan akses layanan kesehatan yang berkualitas, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV), serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi akademik, dinas kesehatan, dan fasilitas layanan kesehatan. Kunjungan yang telah dilakukan menjadi fondasi penting bagi pengembangan model pelatihan yang kontekstual, manusiawi, dan responsif terhadap kebutuhan nyata di lapangan, sehingga layanan kesehatan tidak hanya efektif secara medis, tetapi juga adil dan inklusif bagi seluruh masyarakat. (Almaasita Yumna Hajar dan Nia Lestari Muqarohmah)

Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

PUSAT PERILAKU DAN PROMOSI KESEHATAN

FK-KMK UGM

Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM Lantai 3
Jalan Medika No. 1, Sekip Utara  Yogyakarta, Indonesia, 55581

Email: chbp@ugm.ac.id

Website: chbp.fk.ugm.ac.id

Instagram: chbp_fkkmk

Telp: 0813 2904 0840

 

© Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY