Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada melakukan pertemuan koordinasi bersama Puskesmas Tegalrejo dan Puskesmas Mantrijeron dalam rangka membahas rencana pengembangan riset puskesmas inklusif. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penyusunan langkah strategis untuk melanjutkan dan memperkuat riset yang sebelumnya pernah dijalankan pada tahun 2021.
Pertemuan dihadiri oleh Kepala Puskesmas Mantrijeron drg. Eny Purdiyanti, dan Penanggung Jawab Program HIV Puskesmas Mantrijeron dr. Fitri, serta perwakilan dari Puskesmas Tegalrejo yaitu Penanggung Jawab Program HIV dr. Fajar Wahyuni dan Kepala Tata Usaha Susiliawati. Dari FK-KMK UGM, hadir Prof. Mubasysyir Hasanbasri sebagai ketua peneliti bersama Dr. Retna Siwi Padmawati, serta tim yang terdiri atas Almaasita Yumna Hajar, MPH., Purnama Dewi Siregar, MPH., dan Tutik Istiyani, S.Sos.
Dalam sesi pembuka, Prof. Mubasysyir Hasanbasri menekankan pentingnya melakukan review atau evaluasi bersama terhadap capaian yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir, sekaligus menentukan “level berikutnya” dari pengembangan layanan inklusif yang ingin dicapai. Salah satu poin penting yang dibahas adalah perlunya menjaga komunikasi antar pihak agar penguatan layanan tidak berhenti hanya pada fase awal pelaksanaan program.
Selanjutnya, Dr. Retna Siwi Padmawati menyampaikan tawaran kegiatan pengabdian masyarakat yang dapat dilakukan pada tahap awal di satu sampai dua puskesmas. Usulan ini dibahas sebagai opsi langkah bertahap yang memungkinkan uji coba pendekatan, sekaligus menyiapkan dasar untuk pengembangan riset lanjutan.
Dari pihak Puskesmas Mantrijeron, dr. Fitri menyampaikan bahwa pelatihan bagi tenaga kesehatan non-klinis masih dibutuhkan. Kebutuhan ini dinilai penting karena layanan inklusif tidak hanya ditentukan oleh tindakan klinis, tetapi juga dipengaruhi oleh proses pelayanan di luar ruang pemeriksaan, termasuk penerimaan pasien dan alur layanan sehari-hari.
Dari Puskesmas Tegalrejo, pengembangan riset diarahkan pada pencarian masalah prioritas yang perlu dinilai secara lebih sistematis. Puskesmas menyampaikan kesiapan untuk berkolaborasi dengan universitas, dengan catatan bahwa koordinasi dengan Dinas Kesehatan tetap diperlukan agar kerja sama berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Dalam layanan HIV/AIDS, Puskesmas Tegalrejo melaporkan peningkatan jumlah pasien yang mengakses klinik ARV. Selain itu, pelayanan HIV/AIDS saat ini sudah terintegrasi dalam layanan umum dan tidak lagi diberikan secara eksklusif. Perubahan ini menjadi konteks penting untuk riset lanjutan karena berhubungan dengan kesiapan sistem layanan, alur rujukan, serta pengalaman pasien dalam mengakses layanan.
Beberapa isu yang dibahas secara spesifik mencakup tingginya angka loss to follow up. Selain itu, pendekatan Test and Treat dinilai belum berjalan optimal karena belum semua pasien dan petugas siap. Kondisi ini dapat berdampak pada keberlanjutan pasien dalam layanan, terutama pada fase awal pendampingan. Notifikasi pasangan juga menjadi bagian pembahasan. Dimana notifikasi pasangan saat ini masuk dalam layanan umum karena memerlukan pendekatan dan waktu khusus. Dalam pelaksanaan, isu ini dipahami terkait dengan tantangan komunikasi dan potensi munculnya konflik, sehingga membutuhkan strategi komunikasi yang tepat dan aman bagi pasien.
Pertemuan yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa pengembangan riset puskesmas inklusif akan sangat ditentukan oleh kebutuhan nyata puskesmas: bagaimana pasien bisa tetap terhubung dengan layanan, bagaimana tenaga kesehatan berkomunikasi dengan aman, serta bagaimana sistem mendukung kerja puskesmas di tengah beban layanan yang terus bertambah.
Kegiatan Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FK-KMK UGM bersama Puskesmas Tegalrejo dan Puskesmas Mantrijeron ini selaras dengan agenda SDGs, khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan layanan kesehatan primer yang lebih berkualitas dan berbasis bukti; SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dengan mendorong akses layanan yang inklusif bagi kelompok rentan; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) lewat kolaborasi perguruan tinggi–puskesmas untuk memastikan keberlanjutan riset dan implementasi perbaikan layanan di tingkat lokal. (Almaasita Yumna Hajar)